Masuk

Ingat Saya

Titik Temu Islam dan Demokrasi

Titik Temu Islam dan Demokrasi

Akhir-akhir ini masyarakat diguncangkan dengan berbagai pemberitaan di media terkait banyaknya gerakan radikal yang selanjutnya mengarah pada terorisme. Fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia menjadi pertanyaan besar dari mana asal muasal radikalisme di Indonesia. Berbagai spekulasi tak dapat dipungkiri bermunculan di kalangan masyarakat. Ada sebagian masyarakat menganggap bahwa polemik redikal di Indonesia hanyalah rekayasa sebagian kelompok yang ingin menghancurkan Islam. Namun, ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa radikalisme memang dilakukan oleh sebagian kelompok untuk merubah tatanan pemerintahan di Indonesia.

Banyaknya gerakan-gerakan radikal di Indonesia yang mengatasnamakan Islam membuat nama Islam tercoreng. Pada saat yang bersamaan masalah Internasional yang menjadi perhatian penting ialah radikalisme dan terorisme. Seolah nama Islam semakin terpuruk di mata Internasional. Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam mendapatkan dampaknya. Banyaknya masyarakat Indonesia yang telah tergalang oleh organisasi radikal merupakan salah satu dari dampak merebaknya isu radikal dan terorisme yang mengerucut pada penamaan Islam.

Banyaknya anggota kelompok radikal yang telah merekrut masyarakat Indonesia ditandai dengan berbagai fenomena yang telah terjadi di Indonesia. Indonesia mulai dikejutkan dengan serangkaian bom yang diledakkan di sejumlah gereja termasuk diantaranya tragedi malam natal pada tahun 2000. Berbagai aksi bom terjadi Indonesia, dimulai pada tahun 2000. Berbagai aksi bom pun meluas dengan target berbagai pusat perbelanjaan  yang dianggap sebagai wujud hedonisme dan kapitalisme barat seperti yang terjadi di Plaza Atrium Senen Jakarta (2001), Restoran KFC dan Mc. Donald Makasar (2002), Mall Ratu Indah Makasar (2002), Kafe Sampodo Indah Palopo (2004) dan Pasar Maesa Palu (2005). Berbagai aksi terorisme juga memasuki ranah internasional, karena memiliki target warga negara asing, antara lain Bom Kedutaan Filipina (2002), Bom Bali I (12 Oktober 2002), Bom Hotel J.W. Marriott (5 Agustus 2003), Bom Kuningan di depan Kedutaan Australia  (9 September 2004), Bom Bali II (1 Oktober 2005), dan Bom Hotel Ritz Carlton dan J.W. Marriott II (17 Juli 2009).

Berbagai peristiwa yang telah dilakukan oleh kelompok radikal membuat kerugian yang tidak sedikit bagi Indonesia. Mulai dari kerugian jiwa, kerugian moril, materi, dsb. Masyarakat Indonesia seakan diselimuti ketakutan dengan tersebarnya orang-orang radikal di Indonesia. Tertangkapnya teroris di Indonesia seperti Nurdin M. Top , Dr. Azhari, dan Amrozi tidak mengurangi aksi-aksi kelompok radikal di Indonesia. Bahkan, banyaknya tokoh radikal yang tertangkap membuat kelompok radikal semakin bersemangat untuk memperluas ekspansi kelompoknya guna mendapatkan dukungan yang sebanyak-banyaknya.

Kelompok radikal di Indonesia lebih banyak melakukan rekrutmen kepada para remaja. Terkhusus kepada mahasiswa. Banyaknya mahasiswa yang tergalang oleh kelompok radikal dikarenakan remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan rasa penasaran yang tinggi. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk menggalang guna perekrutan anggota kelompok radikal. Kondisi mahasiswa dengan rasa ingin tahunya didukung dengan kurangnya pengetahuan sebagian mahasiswa akan makna Islam yang sebenarnya.

Pemahaman akan makna Islam yang sebenarnya sangat penting diberikan untuk seluruh anak didik yang masih mangampu pendidikan mulai dari jenjang TK hinga jenjang SMA. Pemberian asupan pengetahuan tentang makna Islam yang sebenarnya berguna untuk mencegah aksi-aksi penggalangan oleh kelompok radikal setelah anak didik meninjak remaja. Pola pendidikan orang tua kepada anak didiknya juga memilki perana penting dalam memengaruhi pemahaman anak tentang makna Islam.

Kondisi masyarakat saat ini ialah kurang mengetahui tentang beragama Islam dalam berbangsa dan bernegara. Sehingga menyebabkan mudahnya sebagian masyarakat direkrut oleh kelompok radikal di Indonesia. Kurangnya pemahaman tentang makna Islam yang sebenarnya hendaknya segera dilakukan langkah penganggulangan guna menangkal berbagai aksi kelompok radikal. Pada akhirnya diharapkan pola pergerakan kelompok radikal dapat dibendung dan bahkan dihapuskan.

Kehidupan beragama Islam dengan berbangsa dan bernegara merupakan pertanyaan besar bagi sebagian orang yang tergoyah pikirannya dengan fenomena yang ada. Ada sebagian orang lebih mengunggulkan agama Islam dengan penerapan sistem pemerintahan Islam di Indonesia. Ada sebagian orang lebih mementingkan kepentingan Negara dibanding dengan kepentingan Islam. Berikut penjelasan mengenai cara kehidupan beragama Islam dengan berbangsa dan bernegara Indonesia.

Makna Islam

Islam ialah agama yang rahmatan lil ‘alamin yang artinya Islam ialah agama yang memberikan cita damai kepada seluruh alam semesta. Islam mengajarkan untuk selalu berbuat kebaikan pada setiap waktu dan dalam segala hal. Islam tidak pernah mengajarkan untuk bertidak kekerasan kepada siapapun bahkan kepada seseorang yang menyakiti. Rosulullah SAW mengajarkan untuk berlemah lembut dalam setiap menyelesaikan masalah yang ada.

Seluruh aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok radikal bukan merupakan cerminan dari Islam. Islam sendiri tidak pernah mengajarkan berbagai aksi pengeboman, pembunuhan, penganiayaan, dsb. Bahkan Islam sendiri mengecam berbagai perbuatan yang telah dilakukan kelompok radikal dengan berbagai kerugian yang kini didapat.

Demokrasi dalam Islam

Berbagai anggapan masyarakat tentang demokrasi yang disandingkan dengan Islam seolah keduanya memiliki sisi yang bertolak belakang. Banyak msyarakat yang menganggap bahwa demokrasi itu thoghut, pemikiran setan, dsb. Berbagai anggapan tentang demokrasi dan Islam seolah menganggap bahwa orang yang setuju dengan demokrasi termasuk dalam golongan orang-orang kafir. Namun, kebanyakan orang yang mengatakan demikian tidak mengetahui makna pemerintahan Islam dan demokrasi secara benar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) demokrasi berarti pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya. Gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi setiap warga Negara.

Berdasarkan penjelasan diatas mengenai makna demokrasi dapat disimpulkan bahwa pemerintahan Islam yang benar ialah pemerintahan dengan system demokrasi. Seluruh system pemerintahan demokrasi memiliki nilai kebenaran dari segi agama Islam. Berikut penjelasannya :

  1. Demokrasi berarti pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya.

Setelah Rosulullah SAW wafat, para sahabat yaitu Abu Bakar Ash-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan beberapa rakyat yang lain berembuk untuk memikirkan tokoh yang cocok untuk menggantikan kepemimpinan Rosulullah SAW. Kemudian terpilihlah Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai pengganti Rosulullah SAW untuk memimpin negeri kala itu.

Berdasarkan sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa :

a. Sistem pemilihan yang diajarkan Islam ialah dengan pemilihan yang dilakukan oleh rakyat dalam menentukan tokoh pemimpin yang cocok. Sedangkan pada demokrasi, rakyat dituntut untuk menggunakan haknya dalam menentukan pemimpinya. Disinilah bukti bahwa demokrasi yang telah ada di Indonesia tidak menyalahi ajaran Islam yang sebenarnya. Karena demokrasi yang ada saat ini telah diajarkan ketika Rosulullah SAW wafat.

b. Tokoh yang terpilih sebagai pemimpin yang melanjutkan kepemimpinan Rosulullah. System demokrasi menjelaskan bahwa pemimpin yang terpilih berdasarkan kesepatan bertugas sebagai penerus pemimpin sebelumnya. Inilah bukti dari kesamaan demokrasi dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Demokrasi yang telah berlaku saat ini tidak menyalahi ajaran Islam yang sebenarnya.

2. Gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi setiap warga Negara.

Pada zaman kepemimpinan Rosulullah SAW, beliau tidak pernah berpilih kasih dalam bersikap kepada rakyatnya. Beliau selalu bersikap adil dalam memberikan hak dan kewajiban kepada seluruh rakyatnya. Disaat Rosulullah memiliki warga yang kurang mampu, maka Rosulullah membebaskan pajaknya dan memberikan bantuan. Itu salah satu contoh dari berbagai kebijakan Rosulullah dalam kepemimpinannya.

Berdasarkan sejarah diatas apabila dihubungkan dengan demokrasi di Indonesia jelas memiliki kesamaan. Indonesia tidak pernah menerapkan pilih kasih dalam memberikan hak dan kewajiban kepada rakyat. Serta Indonesia bijak dalam menyikapi rakyat yang kurang mampu. Ini merupakan bukti bahwa demokrasi di Indonesia tidak mengandung kesalahan dalam perspektif Islam.

Merujuk pada penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa seluruh aksi kelompok radikal di Indonesia bukan merupakan aksi Islam. Mereka hanya sebagian kelompok dengan tujuan tertentu yang mengatasnamakan Islam. Berbagai aksi yang telah dilakukan dengan banyaknya kerugian bukan berasal dari agama Islam, melainkan berasal dari sebagian kelompok yang ingin menunjukkan dirinya dan mengatasnamakan Islam. Islam tidak pernah memerintahkan umatnya untuk melakukan berbagai aksi yang telah dilakukan kelompok radikal. Karena Islam yang sebenarnya mengajarkan demokrasi dalam pemerintahan berbangsa dan bernegara.

Dengan