Masuk

Ingat Saya

Jihadku Muslim Indonesia

Jihadku Muslim Indonesia

Kewajiban setiap muslim di pelbagai daerah tentunya sama. Dari masa ke masa sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga hari kiamat nanti tidak memiliki perubahan syariat, disebabkan Nabi penghujung zaman telah dilahirkan. Perihal adanya wali, kiai, ulama, ustaz, guru agama, dan lain-lain yang ahli dalam bidang keagamaan ialah pewaris Nabi Muhammad SAW. Seperti hadis Nabi yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan Abu Ad-Darda yang berbunyi :

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

Artinya : Ulama adalah pewaris para nabi.”

Ajaran yang dibawakan oleh para pewaris Nabi adalah sama. Keseluruhan mengajarkan tentang kebaikan yang patut dikerjakan oleh seluruh umat muslim di dunia tanpa pandang bulu. Meski terdapat sejumlah mazhab seperti Syafii, Hanafi, Hambali, Malik, dan masih banyak lagi mazhab didunia. Namun tetap tidak mengubah nilai-nilai agama Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Sehingga terkait kewajiban-kewajiban seorang muslim ketika didunia secara keseluruhan adalah sama.

Salah satu kewajiban seorang muslim didunia adalah jihad. Allah berfirman dalam Q.S Al-Baqarah ayat 190 yang berbunyi :

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Artinya : Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Dalam ayat di atas ditetapkan bahwa manusia memiliki kewajiban untuk berperang di jalan Allah. Yang dimaksud berperang di sini ialah berperang kepada orang-orang yang memerangi kita. Dalam ayat tersebut kata makna “orang-orang” dikatakan dengan kata “الذين” yang secara bahasa, kata “الذين” bermakna “yang”. Hal ini menunjukkan bahwa yang perlu diperangi pada dasarnya bukan selalu manusia. Melainkan sesuatu yang mengganggu keimanan, peribadahan, dan lain-lain yang berhubungan dengan ketakwaan kepada Allah SWT. Sehingga, kata “الذين” ini bisa saja bermakna hawa nafsu, kemalasan, kurang semangat, dan sebagainya untuk diperangi sebagai bentuk implementasi jihad fi sabilillah.

Kemudian ayat tersebut dilanjutkan dengan larangan untuk berbuat berlebihan, karena Allah tidak menyukai segala sesuatu yang berlebihan. Berlebihan di sini bermakna pada tindakan jihad yang berlebihan. Jihad yang berlebihan yaitu jihad yang hanya mementingkan ego diri sendiri. Bukan berdasarkan syariat Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Jihad yang sesungguhnya ialah jihad yang memberi kemaslahatan bagi seluruh umat. Jihad yang membangun menjadi lebih baik. Bukan jihad yang merusak dan tidak berperikemanusiaan.

Pelaksanaan jihad hendaknya dimulai dari lingkungan sekitar. Seperti dalam sebuah kisah. Rasulullah SAW didatangi oleh seorang anak kecil yang hendak jihad ke medan perang. Namun, Rasulullah SAW dengan kebijaksanaannya memerintahkan kepada anak tersebut untuk kembali ke rumah dan ber-jihad dengan merawat orang tuanya. Pelaksanaan jihad tidak selamanya dalam bentuk peperangan. Jihad dengan berperang apabila dalam kondisi seperti zaman Nabi. Sedangkan zaman sekarang, jihad yang paling optimal ialah dengan memberikan kebaikan yang dapat bermanfaat kepada orang lain bahkan kepada masyarakat dunia.

Sebagai warga negara Indonesia yang berideologi Pancasila, pelaksanaan jihad bagi warga negara Indonesia ialah dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Seperti penjelasan Muhammad Azizul Ghofar dalam bukunya berjudul “Jihad Fil Pancasila” bahwa keserasian antara Islam dan Pancasila serta di dalamnya menjelaskan tentang langkah-langkah pelaksanaan jihad yang didasarkan dengan Pancasila. Jihad dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila, akan menggiring kita untuk menjadi sosok yang lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara Indonesia untuk menjadi semakin maju.

Pemahaman tentang makna jihad dan pelaksanaan jihad secara benar perlu dimiliki oleh setiap insan muslim di Indonesia. Hal ini ditujukan untuk menghindari adanya kesalahan makna yang dapat berakibat fatal. Penyuluhan-penyuluhan makna jihad melalui pengajian, pendidikan disekolah, pendidikan orang tua kepada anaknya, dan bentuk pendidikan lain perlu dilakukan demi membendung kesalahan dalam memaknai jihad. Pemberian makna jihad ini penting mengingat hukum jihad ialah fardhu ‘ain yang berarti setiap individu seorang muslim wajib untuk melakukannya. Jihad yang benar sebagai warga negara Indonesia ialah jihad fil Pancasila, yaitu ber-jihad dijalan Allah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan rasa cinta tanah air.

Dengan